Suatu masa dimasa silam, aku pernah bertahan sekuat-kuatnya
untuk seseorang.
Bahkan separuh warasku abaikan.
Aku menjadi apapun asal bisa bersamanya,
agar semua yang kuinginkan dapat kumiliki.
Waktu itu aku membutakan diri sebuta-butanya.
Menjadi tuli untuk segala perkara yang melemahkan dada
Aku ingin dia, kuperjuangkan dia sekencang-kencangnya
berlari.
Hingga, tersungkuk aku setengah mati.
Namun, yang aku dapatkan adalah kenyataan dia tidak peduli.
Hari-hari patah dan kalah, hari-hari kecewa dan jatuh
akhirnya kulalui juga.
Panjang rentang waktu terasa. Nyatanya luka lebih dalam dari
apa yang kukira.
Aku menenangkan diri berkali lipat dari patah hati - patah
hati sebelumnya.
Dia tak hanya menghancurkan harapanku,
dia juga mengajarkan betapa kejamnya perasaan yang dia
miliki kepadaku.
Dia yang kuberikan segalanya, dibalas hantam tangis
sehina-hinanya.
Ia campakan begitu saja, hingga sepenuh latar bumi,
sepalung lautan kukutukan sepi sepanjang hidupnya.
Pada hari itu, usai sudah segala perkara.
Kulepaskan ia kepada semesta, matilah bersama sedih-sedih
yang dia derita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar